Data berikut disarikan dari buku Sejarah Tutur Nagari Gunung Medan, diterbitkan UPGRISBA Press, November 2023 cetakan I. Pengerjaan ini didanai Dana Desa anggaran 2023. Lama pengerjaan satu tahun dari Agustus 2022 hingga Agustus 2023.
Untuk mengakses draf cetak buku akses melalui tautan berikut: Sejarah Tutur Nagari Gunung Medan.
Cerita Rakyat yang Hidup dalam Masyarakat Gunung Medan
1. Asal Usul Nama Gunung Medan
Gunung Medan, mungkin orang-orang membayangkan sebuah gunung tinggi ketika mendengar dua kata tersebut. Gunung, berarti dataran tinggi hijau menjulang dihinggapi pohon-pohon rindang serta di bagian puncak tumbuh bunga Edelweis, lain lagi dengan Medan, kata ini sering diasosiasikan dengan nama ibu kota Provinsi Sumatra Utara atau medan sebuah tanah luas yang lapang tempat sebuah pertemuan, juga medan yang lain yaitu medan tempur. Penganalogian ini diambil setelah mendengar beberapa pendapat dari ”orang luar” yang sedang berkunjung atau ”orang luar” yang belum sama sekali datang ke daerah nagari yang disebut sebagai Gunung Medan ini. Namun bagaimana dengan masyarakat Gunung Medan itu sendiri memaknai nama tersebut? Penamaan yang berkait berkelindan pada fenomena alam dan tuturan cerita turun-temurun.
Dari penuturan masyarakat yang hidup di dalam Gunung Medan, untuk mengetahui asal nama ini dipisahkan kata per kata ”Gunung” dan ”Medan”. Gunung, nama ini ada sejak masyarakat pertama yang mendiami wilayah ini. Mereka, atau kita sebut tetuah yang mendiami daerah di sekitaran ini menyebut bagian alam yang tinggi-tinggi sebagai ”Gunung”. Padahal jika diukur menggunakan ukuran kriteria alat ukur modern ilmiah yang dinamakan ”Gunung” oleh masyarakat tersebut masihlah termasuk ke dalam kriteria ”Bukit” dan setelah dilakukan perjalanan ke atas kriteria bukit lebih cocok, mengingat waktu yang dihabiskan untuk mencapai puncak tersebut tidak lebih dari satu jam berjalan kaki.
Sedangkan kata ”Medan” masih mengikuti pemaknaan umum. Sebuah tanah yang luas untuk pertemuan. Pemaknaan kata medan ini baru muncul makna spesifik jika dikaitkan dengan cerita rakyat yang hidup dalam masyarakat Gunung Medan. Legenda Datuak Rajo Kuaso atau dalam nama lain Datuak Kuek Kuaso memiliki andil besar dalam memberi makna pada kata medan ini. Cerita tentang kekuatan super yang mampu menggunduli satu areal di atas bukit tersebut. Penjelasan di atas menjelaskan nama Gunung Medan tidak bisa dilepaskan dari cerita tutur yang bersumber pada fenomena dan bentukan alam.
2. Datuak Rajo Kuaso
PERLU disampaikan di awal, menulis sebuah cerita rakyat tidaklah sama dengan menulis sejarah secara ilmiah. Pembatasan di awal ini perlu sebab dalam cerita rakyat kita tidak bisa melakukan pelacakan sumber yang jelas. Juga versi tunggal yang dibuktikan dengan sumber tertulis seperti dokumen, artefak, dan lain sebagainya. Sebagaimana cerita ia diwariskan lewat tutur turun temurun. Pembuktiannya pun sulit. Beberapa cerita pun di dalamnya mengandung pemaknaan tradisional pada fenomena alam bersifat kiasan. Dari penjelasan awal ini perlu disebutkan jika satu cerita akan memiliki banyak bentuk, sesuai pewarisan cerita dari satu orang ke yang lain. Dengan demikian cara paling bijak dilakukan untuk menuliskan cerita rakyat yaitu menulis semua versi yang hidup dalam masyarakat. Tanpa perlu mempersoalkan benar atau salah pada pencerita, karena cerita yang didapatkan mereka berdasarkan tuturan generasi ke generasi yang tak luput dari pembelokan, penambahan, pengurangan, hingga melebihkan kadar magis.
Salah satu cerita rakyat yang hidup dalam masyarakat Gunung Medan adalah cerita Datuak Rajo Kuaso. Cerita ini berpusat pada salah satu areal yang tidak bisa ditumbuhi pohon di wilayah bukit Gunung Medan. Penyebabnya, dalam cerita rakyat Gunung Medan, zaman dulu di sana Rajo Kuaso meluapkan amarah karena gagal menjadikan anak Raja Siguntur menjadi istri. Cerita rakyat yang lain menyebutkan kemarahan ini disebabkan oleh persoalan tahta kerajaan. Dalam metode sejarah lisan yang digunakan dalam penulisan ini tidak ada cerita yang dibenarkan dan disahkan dalam satu versi cerita. Interpretasi penceritaan ini nanti yang akan dianalisis sesuai dengan teori hermeunitika dalam ilmu sejarah . Setiap cerita harus dituliskan karena bersifat folklore dan usaha pelestarian. Cerita rakyat kadang tidak bisa diterjemahkan secara tekstual, kadang di dalamnya perlu diambil pesan moral untuk diajarkan dalam kehidupan sehari-hari oleh penutur terdahulu ke generasi saat ini kemudian turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu versi cerita yang hampir diterima oleh masyarakat Gunung Medan mengenai Datuak Rajo Kuaso ini adalah cerita mengenai persoalan penolakan dalam asmara. Konon, Datuak Rajo Kuaso menaruh hati pada anak Raja Siguntur. Disebabkan beberapa alasan Rajo Siguntur menolak lamaran Rajo Kuaso. Tidak menerima penolakan tersebut dengan kesaktian yang dimilikinya Rajo Kuaso memutar rumah raja Siguntur membelakangi Sungai Batang Hari. Memutar rumah raja ini dilakukan dari kejauhan dari atas bukit di Gunung Medan. Jika menilik jarak antara Gunung Medan dan Siguntur saat ini yang menurut pengukuran geografi sepanjang 26 kilometer maka magis itu dilakukan dari jarak sangat jauh dan kesaktian besar. Dalam cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi di Gunung Medan pembalikkan arah rumah raja Siguntur ini dilakukan dalam waktu menjelang matahari terbit, kalau digunakan pengukuran saat ini berarti ini dilakukan pada dini hari atau subuh.
Tidak cukup dengan memutar rumah Raja Siguntur, Datuak Rajo Kuaso karena kemarahan oleh penolakan itu, juga mencabut pohon-pohon di areal satu hektar di bukit Gunung Medan. Pohon-pohon besar tersebut dilemparkan ke wilayah Sipangkur, terjauh hingga ke Riau yang saat ini menjadi salah satu provinsi tetangga Sumatra Barat. Akibat dari kesaktian Rajo Kuaso mencabut pohon di area ini tidak bisa lagi ditumbuhi pohon-pohon sehingga tanah di area sehektar ini menjadi tandus. Versi lain mengenai cerita Rajo Kuaso ini namun tidak terlalu populer dan hanya beberapa narasumber saja yang menuturkan adalah persoalan ambisi Rajo Kuaso menjadi raja Kerajaan Siguntur menggantikan raja yang sedang berkuasa saat itu. Sedangkan akibat dari kemarahan ini dari beragam versi cerita masih sama: memutar rumah Raja Siguntur, mencabut pohon-pohon besar di atas bukit hingga tandus. Masyarakat Gunung Medan menamai area tandus ini sebagai medan atau tanah lapang yang luas. Disinyalir dari sini pula, salah satu versi penamaan Gunung Medan berasal. Wilayah tandus ini sekarang beberapa bagian dipasangi plank merk Dharmasraya.
3. Tobek Rajo
Dalam wilayah Nagari Gunung Medan saat ini Tabek Rajo masuk ke dalam wilayah administrasi Jorong Palo Tabek. Tobek Rajo masuk dalam salah satu prioritas perencanaan pembangunan Gunung Medan. Saat ini bagi masyarakat Nagari Gunung Medan Tabek Rajo memiliki cerita tersendiri hidup dan diyakini menjadi cerita rakyat. Konon di lokasi tersebut pernah terjadi suatu peristiwa penting yang melibatkan putra mahkota Kerajaan Siguntur ketika pergi ke lokasi tersebut, salah satu versi menyebutkan kedatangan untuk memungut pajak sedangkan versi lain, kedatangan untuk sekadar bermain meninjau lokasi. Implikasi cerita dari kedua versi tersebut tidak ada perbedaan, masih sama yaitu seorang putra mahkota yang tercekik ikan.
Kita mulai dari kedatangan rombongan ini ke lokasi yang disebut Tabek Rajo tersebut. Ketika itu tobek ini memiliki banyak dan bermacam spesies ikan. Ikan-ikan ini berenang dalam air jernih sehingga menarik hati rombongan untuk mengailnya. Setelah ikan-ikan tersebut didapat, dimasak, lalu diadakan makan bersama rombongan. Ketika sedang makan ini peristiwa tersebut terjadi. Kepala rombongan, putra mahkota Kerajaan Siguntur tercekik tulang ikan puyu. Terjadi kepanikan saat itu, karena tulang tersebut tidak juga dapat dikeluarkan dalam beberapa waktu yang agak lama.
Keajaiban datang setelah lewat rombongan pengembala kerbau. Melihat terjadi kepanikan di sekitaran tabek, seorang pengembala mendatangi lokasi tersebut dan terkejut melihat anak raja kesakitan karena tulang yang menancap kuat di tenggorokannya. Pengembala tersebut menawarkan diri untuk menolongnya. Setelah dibacakan semacam mantra, dan satu trik sederhana pengembala tersebut memasukkan tangannya untuk mencabut tulang tersebut, ajaib, tulang tersebut berhasil dikeluarkan dari teronggorakan putra raja yang tercekik. Rombongan putra Raja Siguntur sangat berterima kasih kepada rombongan pengembala dan bersiap kembali ke Kerajaan Siguntur.
Selang beberapa hari setelah peristiwa tersebut dan sekembalinya rombongan ke kerajaan diceritakan oleh anak raja peristiwa yang menimpa rombongan tersebut kepada ayahnya. Mendengar cerita anak dan rombongannya raja merasa bersyukur sehingga berniat menemui pengembala yang menyelamatkan anaknya tersebut. Beberapa hari kemudian raja turun ke lokasi tabek tersebut menunggu gerombolan pengembala datang. Beberapa waktu kemudian datanglah gerombolan pengembala kerbau. Si raja menanyakan adakah di antara mereka yang menyelamatkan anaknya dalam peristiwa tercekik ikan beberapa waktu yang lalu. Menyahutlah seorang pengembala yang menyelamatkan nyawa putranya itu.
Di hadapan para pengembala ini Raja Siguntur berterima kasih telah menyelamatkan nyawa anaknya. Sebagai imbalan raja mengatakan kalau tabek ini boleh digunakan oleh semua orang sebagai tanda terima kasih. Orang-orang gembira, kemudian menamai tabek ini sebagai tabek rajo pemberian Raja Siguntur atas balas budi kepada rakyat Gunung Medan.
Bila cerita di atas kita nalar dengan penalalaran ilmiah, akan terbaca seperti cerita dongeng saja. Di sini letak keistimewahan dalam penuturan cerita rakyat. Setiap cerita mengandung pesan moral tersendiri yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Juga cerita dapat ditafsirkan secara beragam. Barangkali dalam cerita tersebut salah satu nilai moral yang tersirat adalah hati-hati dalam makan ikan, jika tidak maka bisa membahayakan nyawa. Kemudian, bisa juga dipetik pelajaran untuk hidup saling tolong menolong dalam masyarakat. Dari cerita di atas kita juga dapat hikmah berbuat baiklah kepada semua orang kelak perbuatan baik akan mendapat balasan pula.
4. Legenda Batu Kawin
Nagari Gunung Medan tidak pernah kering dengan cerita rakyat. Salah satu legenda yang hidup dan masih dapat ditemukan obyeknya adalah batu kawin di Puncak Gunung Medan. Dulu, beberapa dekade belum lama ini obyek ini menjadi salah satu tempat wisata favorit tempat pengambilan foto ketika waktu lebaran. Cerita tentang batu kawin hidup dalam masyarakat dalam versi tunggal. Batu kawin merupakan istilah untuk menggambarkan dua buah batu yang berdekatan dalam waktu tertentu dan kembali berpisah dalam waktu lain. Konon dalam penuturan cerita generasi terdahulu batu ini memiliki masa kawin di waktu-waktu tertentu.
5. Pondam-pondam di Nagari Gunung Medan
Pondam atau lebih dikenal dengan nama lain makam memiliki cerita dan sejarah masing-masing di Gunung Medan. Di wilayah Nagari Gunung Medan beberapa makam memiliki tuah tersediri dan cerita masing-masing yang dituturkan dari masa lalu. Bakawu, salah satu tradisi yang diselenggarakan di makam-makam ini misalknya ketika akan menanam atau setelah lebaran. Tradisi bakawu dalam beberapa tahun belakangan sudah tidak begitu rutin dan merupakan tugas besar bagi masyarakat untuk melestarikan tradisi penuh kebersamaan ini. Gunung Medan memiliki beberapa pondam dengan berbagai cerita yang menjadi dasar pemilihan makam-makam ini sebagai tempat bakawu di antaranya:
Pondam Tengku Diaceh
Pondam Tengku Diaceh secara administrasi masuk ke dalam wilayah Jorong Koto, terletak beberapa meter dari Masjid Jami’ Nurul Aman. Pondam ini didatangi ketika bakawu sebelum masa menanam padi. Waktu demikian dipilih karena berkenaan dengan cerita Tengku Diaceh sendiri. Cerita ini bermula ketika pada suatu masa hidup seorang anak muda yang menyendiri di atas bukit Gunung Medan saat ini. Di sana saban hari anak muda tersebut bermain, sesekali berladang, dan beberapa versi cerita mengatakan di sana dia memainkan alat musik saluang. Satu versi menyebutkan nama aslinya adalah Burhanudin.
Tengku Diaceh ini sangat jarang di rumah karena hidup dalam keterbatasan. Sampai suatu waktu dia sudah sangat lama tidak pulang menemui ibunya. Beberapa tahun belum juga pulang orang-orang mengira ia sudah meninggal dunia, termasuk ibunya sendiri. Tidak disangka keajaiban terjadi, Tengku Diaceh tidak pulang sebab sudah sampai di Aceh, pusat pengajaran Islam saat itu. Di sana dia belajar dan memperdalam ilmu agama. Lama mendiami Aceh dan ilmu agamanya sudah dirasa cukup ia bersama sama muridnya melanglang buana menyebarkan ilmu agama.
Beberapa tahun kemudian dia sampai kembali ke tanah kelahirannya di Gunung Medan, di mana orang-orang sudah menganggapnya hilang bahkan meninggal dunia. Ketika sampai ia bersama para murid langsung menuju ke rumah ibundanya. Sampai di sana ia dan rombongan bertemu sang ibu yang sudah sepu. Ibunya belum menyadari bahwa yang datang tersebut adalah anaknya, sebab dalam pikirannya anak bujang miliknya sudah hilang bertahun-tahun.
Beberapa saat kemudian ia meminta si ibu memasak untuk rombongan. Ketika itu ibunya mengakui tidak ada beras untuk dimasak. Mendengar keluhan tersebut ia meminta ibu tadi untuk segera smemeriksa guci penyimpan beras ke dapur. Alangkah terkejut sang ibu melihat tujuh buah guci penyimpan beras tersebut semuanya sudah terisi penuh. Si ibu kembali menemui rombongan tadi dan menyampaikan rasa syukur bahwa benar tempat berasnya semua terisi penuh. Kemudian barulah mengaku Tengku Diaceh bahwa dia adalah anak ibu tersebut dan menjelaskan bahwa terjadi keajaiban kalau dia tidak hilang hanya tiba-tiba saja sudah sampai di Aceh untuk belajar agama. Ibunya sangat gembira bertemu kembali dengan anak yang dianggapnya sudah lama hilang kini muncul sebagai ulama dengan beberapa murid.
Tengku Diaceh kembali menetap di Gunung Medan hingga wafat. Makamnya dikunjungi meminta berkat doa sebelum musim tanam. Dari cerita mengenai Tengku Diaceh ini menggambarkan tentang pentingnya menanam dan persedian beras di musim paceklik, sepenurut istilah pemerintah baru baru ini dinamakan menjaga ketahanan pangan.
Pondam Ujung Tanjung
Pondam Ujung Tanjung saat ini terletak masih di wilayah administrasi Jorong Koto. Pondam ini terletak sekitar 30 meter dari pondam Tengku Diaceh. Makam ini sering dikunjungi untuk bakawu setelah lebaran. Tidak banyak cerita mengenai Pondam Ujung Tanjung ini. Masih dibutuhkan kesaksian lanjutan.
Pondam Suwau Kinciu
Pondam ini merupakan makam Ibrahim Tengku Gunung, saat ini berada di Jorong Koto persis di depan surau pasukuan Patopang saat ini. Makam ini sangat erat kaitannya dengan kaum Malayu karena Ibrahim Tengku Gunung berasal dari sana. Pondam ini dikunjungi untuk meminta berkat sebelum bulan suci Ramadan.
Pondam Datuak Basa di Blok A Piruko
Sekarang makam satu ini berada dalam wilayah administratif Bloak A Piruko, Kecamatan Sitiung. Dulu masyarakat Gunung Medan juga melakukan bakawu di sini. Cerita yang diturunkan mengenai pondam ini adalah dulu seorang Tengku asal Gunung Medan dimakamkan di sini bersama dengan harta bendanya. Menurut salah seorang sumber pada tahun 1963 ketika terjadi kemarau tujuh bulan –hampir sepanjang tahun, masyarakat Gunung Medan mengadakan bakawu di lokasi ini untuk melakukan doa minta hujan.
Salah satu cerita rakyat mengenai pondam ini adalah seorang penjaga makam ini yang setia. Kukuh menjaga makam tersebut hingga ilalang sekitaran makam berbunga. Sangat lama, hingga datang seorang menunjukkan jalan agar ilalang berbunga maka terlebih dahulu dibakar, kemudian dia mulai membakar ilalang tersebut, dan terbukti setelah pembakaran ilalang tersebut pada akhirnya berbunga. Di antara pondam-pondam di atas terdapat beberapa buah pondam yang mesti ditelusuri kembali keberadaannya, beberapa sumber mengatakan ada Pondam Suwau Tenggi yang merupakan makam seorang syekh dan pondam Sengiau yang menurut sumber berada di wilayah Ganting dekat lokasi Polisi Resor Dharmasraya saat ini.
6. Tiga ekor Harimau di atas bukit Gunung Medan
Mitos mengenai tiga ekor harimau berdasar pada cerita tiga harimau yang berwarna hitam, pinang masak, dan warna abu-abu beras yang pernah terlihat di atas bukit Gunung Medan. Menurut kepercayaan masyarakat jika ada hal yang tidak beres atau hal yang melanggar norma yang terjadi di Nagari Gunung Medan seperti hamil di luar nikah maka para harimau akan memberi tanda dengan bersuara atau harimau akan mencari para tetua adat dan penghulu adat, terkadang juga dengan cara memakan hewan lain lalu dibuang di hadapan para pemuka adat.
Apabila peristiwa tersebut terjadi, maka berkumpullah para masyarakat untuk mencari sumber masalah dan pasti akan selalu menemukannya. Seiring berkembang zaman dan bertambah ramainya daerah tersebut maka para harimau ini tidak pernah lagi menunjukan diri. Dahulu memang ada seorang dukun yang selalu memberi makan para harimau tersebut seperti nasi kuning, telur ayam. Orang-orang dahulu mengatakan bahwa salah satu sarang para harimau tersebut berada di atas patung di jalan masuk jika akan naik ke puncak bukit Gunung Medan, dan jika ada harimau lain yang memasuki kawasan Nagari Gunung Medan maka akan dihalangi dengan melakukan perkelahian. Namun sekarang para harimau tersebut sudah tidak pernah terlihat lagi karena para harimau tersebut hanya melahirkan satu anak lalu akan mandul setelahnya.
7. Mitos Orang Bunian atau Makhluk Halus
Mitos lain yang ada di Nagari Gunung Medan yaitu mengenai adanya orang Bunian atau makhluk halus yang tinggal di puncak bukit, pada saat musim panen padi tiba, jika hasil panen padi sedikit maka masyarakat percaya bahwa orang bunianlah yang mengambilnya atau meminjam hasil panen tersebut. Mereka meminjam hasil panen padi tersebut untuk pesta. Maka saat musim panen tahun depan hasil panen akan banyak karena orang Bunian tersebut akan mengembalikan hasil panen yang mereka pinjam tahun lalu.